Rekam24Bekasi.com, Kaliabang, Kota Bekasi – Tumpukan sampah yang berada di pinggiran jalan Kaliabang Ceger, tepatnya dengan area pemakaman dan permukiman, di Kelurahan Pejuang, Kota Bekasi, pada Minggu 28 Desember 2025.
Pantauan di lokasi menunjukkan berbagai jenis sampah rumah tangga, seperti plastik, botol minuman, hingga sisa bunga bekas peziarah, menumpuk di sisi jalan.
Selain itu, pada saat hujan turun, air lindi dari sampah mengalir ke badan jalan dan menimbulkan bau tidak sedap.
Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan, mencemari lingkungan, serta berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi warga sekitar.
Ketua RT setempat, Sahbudin, mengatakan permasalahan sampah di lokasi tersebut telah berlangsung cukup lama.
Sahbudin menjelaskan, bahwa ketiadaan tempat pembuangan sampah sementara (TPS), menjadi salah satu penyebab utama munculnya praktik pembuangan sampah liar.
“Masalah ini sudah lama terjadi karena wilayah ini memang tidak memiliki tempat pembuangan khusus. Sampah ditaruh, dimuat, lalu dibawa, tapi tetap saja ada yang buang sembarangan,” ujar Sahbudin, Minggu 28 Desember 2025.
Dirinya menambahkan, sampah yang menumpuk tidak hanya berasal dari warga sekitar, melainkan juga dari luar wilayah. Minimnya pengawasan membuat lokasi tersebut kerap dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan ilegal.
“Bukan hanya warga sini. Sampah dari luar juga banyak karena tidak ada keamanan, jadi siapa saja bisa buang,” kata dia.
Sementara itu, Minah (50), warga yang tinggal di sekitar area sekitar, mengaku telah melihat tumpukan sampah tersebut sejak sekitar satu tahun terakhir. Awalnya jumlah sampah tidak terlalu banyak, namun semakin lama semakin menumpuk.
“Sampah di sini sudah ada cukup lama, kurang lebih sejak setahun terakhir. Awalnya sedikit, tapi lama-lama makin menumpuk,” ujar Minah.
Menurut Minah, sebagian besar sampah diduga berasal dari warga yang melintas dan pengunjung kuburan. Selain itu, ada pula oknum yang sengaja membuang sampah rumah tangga karena kondisi lokasi yang sepi.
Ia menilai keberadaan sampah tersebut sangat mengganggu kenyamanan warga, terutama saat musim hujan. Bau tidak sedap kerap tercium dan pemandangan di sekitar pemakaman menjadi tidak layak.
“Sangat mengganggu. Kalau hujan baunya makin menyengat. Kadang juga muncul lalat dan nyamuk, kami khawatir bisa menimbulkan penyakit,” tegas dia.
Minah menyebutkan, warga sebenarnya telah melaporkan persoalan tersebut kepada Ketua RT. Kerja bakti juga sempat dilakukan, namun belum memberikan hasil jangka panjang karena sampah kembali muncul beberapa hari setelah dibersihkan.
“Sudah pernah dibersihkan, tapi beberapa hari kemudian sampah muncul lagi,” ujar dia.
Baik Ketua RT maupun warga berharap adanya penanganan serius dari pemerintah setempat. Mereka menilai penyediaan tempat sampah, pengangkutan rutin, serta pengawasan dan penindakan tegas terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan perlu segera diterapkan.









